.:[Double Click To][Close]:.

Keterlibatan Facebook Dalam Revolusi Mesir


Setelah lama bungkam mengenai keterlibatan langsung Facebook dalam revolusi Mesir yang berakhir dengan jatuhnya Hosni Mubarak beberapa waktu yang lalu, kini Facebook tidak bisa lagi mengelak atas keterlibatan mereka dalam revolusi tersebut.

Mashable.com mencatat beberapa laporan yang menunjukkan keterlibatan terselubung dari beberapa pimpinan Facebook untuk mendukung revolusi tersebut.

Menurut Daily Beast, Facebook dilaporkan bekerja untuk melindungi identitas aktivis Mesir. Situs berita ini mengklaim memperoleh e-mail dari eksekutif Facebook dan para administrator dari sebuahPage di Facebook dengan nama We Are All Khaled Said yang merupakan awal mula pusat gempa revolusi digital ini. Facebook Page ini diciptakan untuk mengingat seorang laki-laki Mesir yang dibunuh musim panas lalu oleh polisi.

Lebih jauh Daily Beast mengatakan bahwa eksekutif Facebook mengambil langkah-langkah yang tidak biasa untuk melindungi identitas para pemimpin protes selama pemberontakan Mesir. Pada tanggal 25 Januari awal mula revolusi mesir tersebut, pemrotes di Mesir yang tidak mungkin dapat menghubungi teman-teman mereka di seluruh Mesir untuk mengadakan demonstrasi secara serentak. Seorang admin dari sebuah Page di Facebook telah meminta bantuan top executive Facebook untuk membantunya menyebarkan email.

Tidak lama kemudian Page di Facebook tersebut menjadi sangat populer dan menjadi tempat online bagi para demonstran untuk berkumpul serta menjadi awal gerakan revolusi tersebut. Setiap hari selalu ada update di wall dan sebanyak 400 ribu fans. Page ini memuat berbagai permohonan ber-api-api agar para pendemo di Mesir bergabung. Para pemrotes terus bergabung hal ini membuat kekhawatiran bagi administrator page yang bernama We Are All Khaled Said tersebut. Administrator merasa pemerintah regim Mubarak akan melancarkan serangan cyber untuk menutup Page tersebut atau menangkapi para pengelolanya. Sampai pada titik ini belum jelas apakah Facebook memberikan bantuan.

Halaman Facebook We Are All Khaled Said, sumber:https://www.facebook.com/ElShaheeed

Di suatu malam tanggal 25 Januari tersebut, Richard Allan, Direktur Kebijakan Facebook untuk Eropa merespon kekhawatiran administrator Page di Facebook tersebut dengan mengatakan:

We have put all the key pages into special protection,” he wrote in an email. A team, he said, “is monitoring activity from Egypt now on a 24/7 basis.”

Ini artinya secara resmi atau tidak (melalui pribadi Richard Allan) Facebook telah memberikan perlindungan khusus terhadap Page We Are All Khaled Said agat tidak mudah diserang pemerintah Mesir atau agar pengelolanya tidak mudah untuk ditangkapi.

Dengan memberikan perlindungan istimewa terhadap page ini, Facebook telah memainkan peran sebagai tempat berkumpul para aktivis pro revolusi Mesir untuk menyatukan kekuatan mereka dan untuk terus berdemo, menggalang kekuatan selagi Hosni Mubarak tidak juga mau turun dari jabatannya. Namun Richard Allan menolak untuk mengomentari hal ini. Ia sendiri bergabung dengan Facebook pada bulan Juni 2009. Dalam sebuah wawancara di bulan Agustus dengan Financial Times, ia mengatakan bahwa di antara tanggung jawabnya adalah melakukan deal dengan sensor, kebebasan berbicara dan privasi, serta mempromosikan Facebook untuk kepentingan umum.

Dengan latar belakang sebagai seorang yang suka kebebasan berbicara dan anti sensor serta ditempatkan pada posisi yang cukup menentukan di Facebook bukan tidak mungkin Richard Allan telah menggunakan posisinya baik resmi atau tidak untuk mendukung revolusi Mesir. Seorang mantan pegawai Facebook mengatakan bahwa Richard Allan memiliki kekuatan untuk mengirimkan email kepada siapa saja yang berkepentingan dalam situasi tertentu.

Dengan demikian, sengaja atau tidak memang Facebook telah berperan cukup banyak dalam revolusi Mesir yang berhasil menumbangkan rezim Hosni Mubarak tersebut. Setelah berhasilnya revolusi tersebut, peningkatan pengguna Facebook Mesir meningkat secara mengejutkan. Tidak tahu juga apakah keberhasilan revolusi tersebut membuat warga Mesir merasa harus berterimakasih kepada Facebook dengan beramai-ramai menjadi anggotanya.

Menarik juga dilihat, pemadaman jaringan internet oleh pemerintah Mesir selama beberapa hari tidak menyurutkan api revolusi di Mesir padahal Facebook hanya dapat ditengok jika ada koneksi internet. Hal ini menandakan, bahwa gelombang revolusi tersebut ternyata sudah cukup besar, Facebook berperan menyatukan gelombang tersebut dan ketika telah bersatu, tidak dapat lagi dihentikan walaupun dengan memutuskan koneksi internet.

    2011 Shakira Hot Actress

    2011 Shakira2011 Shakira Wallpapers
    2011 Shakira2011 Shakira Hot Review
    2011 Shakira2011 Shakira New Year

    GREEN BAY, Wisconsin - The Colombian firecracker Shakira had just finished performing before a sell out crowd at Green Bays' Box of Snow Balls Auditorium when she received the good news.

    She was informed by Tittle Tattle Tonight's Papaya Ruckusgarden that her 2011 Shakira The Firecracking Belly Dancer Nude Calendar had just hit the 3 million sales mark, eclipsing Heidi Montag's 2010 Heidi 'The Plastic Woman' Montag's Nude Calendar.

    Shakira was so excited she could hardly talk. When asked to comment she smiled and merely shook her world famous hips at the record breaking speed of 124 miles per hour.

    After taking a sip of some Jose Cuervo Tequila the South American beauty replied that she was honored. She giggled and said that when she was a little girl growing up in Barranquilla, Colombia she used to dream of one day appearing in a nude calendar and now her dream has finally come true.

    She took another sip of tequila and said that it is just too bad that her new boyfriend could not be with her to help her celebrate this momentous occasion.

    [EDITOR'S NOTE: Shakira recently broke up with Antonio De La Rua after a relationship that lasted 11 years and saw him follow her to over 145 countries watching her gyrate the hips that Larry King once called, "The Fastest Darn Hips In

    Shakira informed Papaya that she will be in California in a few days where she will be autographing her calendar at the world famous La Brea Tar Pits.

    The woman whose full name is Isabel Mebarak Ripoll says that she plans to give part of the profits from the sale of the calendar to the good sisters of Our Lady of The Coffee Growers Convent in Bogota, Colombia so that they can purchase some much needed new nuns habits.

    Shakira was especially excited due to the fact that her brand new boyfriend 22-year-old Manchester United football (soccer) star Chicharito is flying in from England to be with her at the La Brea Tar Pits calendar signing.

    Shakira Hot Looking Smart


    Shakira hot Photo
    shakira hot

    shakira hot pics
    Shakira hot

    Shakira Hot Review
    Shakira hot

    Shakira World Top Singer and Dancer

    ShakiraShakira wallp
    ShakiraShakira images
    ShakiraShakira haiti
    ShakiraShakira Wolf
    ShakiraShakira Sexy
    ShakiraShakira Photo
    ShakiraShakira

    Shakira Isabel Mebarak Ripoll (born February 2, 1977), known professionally as Shakira is a Colombian singer, songwriter, musician, record producer, dancer, and philanthropist who emerged in the music scene of Colombia and Latin America in the early 1990s. Born and raised in Barranquilla, Colombia, Shakira revealed many of her talents in school as a live performer, demonstrating her vocal ability with rock and roll, Latin and Middle Eastern influences with her own original twist on belly dancing. Shakira is a native Spanish speaker and also speaks fluent English and Portuguese as well as some Italian, French and Arabic.

    After commercial flops with local producers on her first two albums, and being little-known outside Colombia, Shakira decided to produce her own brand of music. In 1995 she released Pies Descalzos, which brought her great fame in Latin America and Spain, and her 1998 album ¿Dónde Están los Ladrones? was a critical success selling over 10 million copies worldwide. In 2001, aided by the worldwide success of her first English single "Whenever, Wherever", she broke through into the English-speaking world with the release of Laundry Service, which sold over 15 million copies worldwide. Four years later, Shakira released two album projects called Fijación Oral Vol. 1 and Oral Fixation Vol. 2. Both reinforced her success, particularly with the best selling song of the 2000s, "Hips Don't Lie".

    She has won two Grammy Awards, seven Latin Grammy Awards, twelve Billboard Latin Music Awards and has been Golden Globe-nominated. She is also the highest-selling Colombian artist of all time, and the second most successful female Latin singer after Gloria Estefan, having sold over 60 million albums worldwide according to Sony Music. Her U.S. album sales stand at 9.6 million.

    Additionally, she is the only artist from South America to reach the number-one spot on the U.S. Billboard Hot 100, the Australian ARIA chart, and the UK Singles Chart. Shakira was given a star on the Hollywood Walk of Fame in 2009, along with other celebrities such as Cameron Diaz, Robert Downey Jr, and Hugh Jackman. In the fall of 2009, Shakira released her sixth album She Wolf worldwide. Shakira was ranked the 76th artist of the 2000–10 artist of the decade by Billboard.

    Shakira's "Waka Waka (This Time for Africa)", was chosen as the official song for the 2010 FIFA World Cup. The song has received generally positive critical reception, and has become a worldwide smash hit and the biggest selling World Cup song of all time. On YouTube, the English version of the music video is the 3rd most watched video of all time with over 300 million views. Her seventh studio album, the bilingual Sale el Sol, was released October 19, 2010.
    Shakira's videos recently surpassed a billion views on Youtube, making her the third most-viewed artist of all time.

    Volkswagen Golf GTI Pictures


    On the whole, employees of car manufacturers reside in one of two camps: the hardcore petrolheads who’ve spent a lifetime dreaming of creating the ideal driving machine, and the number-crunching bean-counters that spend their days observing and analysing statistics and market trends, optimising sales and crushing the dreams of the first group. This is a successful formula in general terms, encouraging development and evolution within the industry whilst maintaining consistent sales through models that have a broad appeal. For aftermarket tuners and DIY mechanics, it’s a positive joy to tweak the aspects of a car that have been softened for mass consumption; stiffer suspension, lower profile tyres, less restrictive exhaust systems that would run the risk of pleasing a few but offending many if they were fitted in the mainstream.

    So, everyone’s happy, yes? The accountants have lovely graphs where all the lines go upwards, Demon Tweeks are doing a roaring trade in spikey cams and carbon-fibre airboxes… but what about the in-house enthusiasts; the designers, developers and engineers? How do these poor souls react to having their vision diluted so callously.
    They rebel, that’s how. Look at the original Golf GTI: VW bosses wanted the Golf to be a sort of upmarket take on the Mini, with low weight, diminutive dimensions and maximised interior space. The engineers wanted it to be quick and fun. They built the prototype in their spare time… and management loved it. Absolutely loved it. And you know how successful that was Fast-forward a few decades and the cheeky scamps at Wolfsburg were at it again. OK, the goalposts had shifted somewhat – this wasn't so much an engineer-led project as the latest manifestation of the spiralling and ludicrous power war dominating the German motor industry – and we knew not to get our hopes up too high. They didn't actually build the W12-650 for public consumption.

    Imagine if they did, though. Until the launch of the mkV, the Golf GTI had come under enormous criticism for its loss of focus; what began as a pure and playful thoroughbred evolved into something lardy and sluggish. The mkV GTI was a return to form, but some people wanted more. More grunt, more attitude, more thrust. The R32 addressed these issues, with a juicy V6 and a hateful disdain for other hot hatches. VW then wanted to show just how far they could stretch the formula… and it got really rather silly.

    This may look like a Golf GTI that’s been tampered with by a backstreet chop-shop, but this is no trailer queen. Strolling past it, you might notice the twin fans in the back. Er, yes, there’s a 6-litre biturbo W12 under there. Which produces 641bhp. And that’s just ridiculous.The W12 isn’t really a W-configuration in the same way that the VR6 isn’t really a V; indeed the W12 is basically two VR6 engines bolted to a common crank. The most common application of this engine in a similar state of tune? That’ll be the Bentley Continental GT. OK, so we have a Volkswagen Golf with a Bentley engine mounted in the middle – a Bentley engine that has been significantly tuned, no less – with 641bhp. Silly enough for you? How about if I mention that it will hit sixty in 3.7 seconds, going on to a v-max of 201mph? The lunatics, if not actually taking over the asylum, had certainly distributed a few propaganda leaflets.

    The real bitch was that this was just a mule, a showcase of what VW could achieve when they put their minds to it. (Some might argue that it’s a glimpse of what would happen if the artisans had a freer reign, others that it serves to validate how fearful VW are of alienating their consumers by behaving in too extreme a manner.) By this token, unfortunately, it didn’t really achieve what it should have. Sure, it looked superb, the performance was brutal and genuinely impressive, but there was a lack of finesse that ruined the whole project. While it worked to their credit that journalists were allowed to drive the car – by no means a given with your average one-off prototype – reports of questionable brakes and downright dangerous handling dynamics were rife.Still, who gives a toss about that? It’s a 200mph Golf with a fucking Bentley engine. The world needs more behaviour like this. We need to regain faith that these colossal conglomerates are still based on boundless enthusiasm and a genuine desire to excel. The passion exists, it just needs to be nurtured




    Suzuki Grand Vitara TMR Wallpapers


    Suzuki has announced that its updated-for-2009 Grand Vitara will hit showrooms Australia-wide in September, bringing with more power, better economy and greater safety than the outgoing model, along with a few minor cosmetic upgrades.

    Two new petrol engines join the Grand Vitara range, with a 2.4-litre inline four replacing the old 1.6 and 2-litre units and a new 3.2-litre V6 taking up residence in the Grand Vitara Prestige. Both engines are equipped with variable valve timing (intake cam only on the 2.4-litre and both intake and exhaust on the 3.2) and both are smoother, quieter and more refined than the outgoing motors.

    The 2.4-litre engine also features a variable-length intake manifold, which can change the length of the inlet tract to help improve torque production across the rev range and improve efficiency. Combined with the VVT system, the 2.4-litre four is capable of busting out a respectable 122kW while delivering an admirable fuel consumption figure of just 8.8 litres per 100km when equipped with the 5-speed manual gearbox.

    With an extra 500cc over the outgoing 2.7-litre V6, the 165kW 3.2-litre donk in the Grand Vitara Prestige still manages to deliver an ADR economy figure of 10.5 litres per 100km, which makes it 9 per cent more frugal than its smaller predecessor. Power is also 22 per cent higher than the old engine and with its variable valve timing, roller rockers and silent drive system for its timing chain, it's easy to see why the 3.2L V6 is the flagship motor for the 2009 Grand Vitara. The 1.9-litre turbodiesel four carries over from the old model, and has been warmed over by Suzuki's engineers for an improved fuel economy figure of 7L/100km.

    The 2.4-litre engine is available with either a 5-speed manual or a four-speed automatic, while the V6 comes with a 5-speed slushbox as the only option. All engines come hooked up to Suzuki's excellent 4x4 system, which features a dual-range transfer case and locking centre differential for when the going gets really tough. The Prestige V6 also comes equipped with hill descent control and hill hold control as standard.





    Misteri Gempa Yogya 2 Tahun Silam Terungkap Lewat Foto

    Setelah 2 Tahun Bungkam Akhirnya Sang Nelayan Australia itu Mengungkapkan Rasa Bersalah nya yang gak kunjung Hilang terus menghantuinnya hari ke hari akhirnya sang nelayan Australia berhasil kami wawancarai, berikut ini sedikit kutipan dari hasil wawancara via phone :

    "Oh My GOD, I don't believe it, I only fell silent said nothing saw this incident and unintentionally immortalised this incident, but sorry from me because just now I revealed the very frightening mystery". Berikut Berapa Bukti Atas Kebenaran Sang Nelayan Australia Tersebut :
    Hasil Jepretan Sang Nelayan :
    Setelah Banyak Mengorek Banyak Info dari Sang Nelayan, sebelum ledakan nuklir itu terjadi ada pesawat berbentuk aneh berwarna gelap menghiasi pagi itu, tapi Sang Nelayan Tidak Begitu Memperdulikannya, Tapi setelah sekian menit ledakan muncul dan Sang Nelayan Kaget Sampai Terperanjat.

    "Oh My GOD, I was very startled, his light like that dazzled"

    Dan Kami Berhasil Melakukan Pengambilan Gambar di Pantai ParangTritis :


    Dan berikut video detik detik ledakan itu terjadi



    sumber : http://situslakalaka.blogspot.com/2011/02/misteri-gempa-yogya-2-tahun-silam.html

    Biadab, Kedok Amerika Dibalik Tragedi Tsunami Aceh Terbongkar

    Mungkin ini berita lama tapi saya tertarik untuk mengulasnya lagi mengingat banyaknya kerusuhan yang melanda negera2 islam di dunia. Misteri rahasia tsunami di Aceh.

    Dulu Presiden Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI), DR Eggi Sudjana SH Msi mensinyalir, bahwa bencana yang menimpa NAD dan sekitarnya bukanlah gempa dan gelombang tsunami yang sesungguhnya. Akan tetapi sebuah gelombang bom termonuklir yang sengaja diledakkan di bawah laut.

    Pendapat Eggi tersebut dikemukakan kepada Wawasan, usai dialog menyoal seratus hari pemerintahan SBY, di kantor pengacara Taufik SH di Solo. "Melalui pendapat dan analisa yang dikemukakan pakar nuklir independen asal Australia Joe Vialls, saya sepakat, bahwa ada indikasi kuat Amerika dengan dua kapal perangnya satu diantaranya bernama USS Abraham Lincoln, berada di balik tragedi itu," katanya.

    Menurut Eggi, sebelum terjadi bencana itu, Amerika telah mengeluarkan travel warning kepada warganya agar tidak berkunjung ke Indonesia. Sementara masuknya kapal induk asing, cukup mengundang pertanyaan, kenapa diperbolehkan oleh pemerintah kita. Dengan kata lain, Jakarta tahu benar akan keberadaan kapal asing di perairan kita.

    "Ada temuan kejanggalan lagi, CNN selama ini memberitakan bahwa pusat gempa terjadi di dekat pulau We. Sementara yang terjadi sesungguhnya di dekat pulau Nias dengan kekuatan gempa hanya 5,4 skala richter. Namun yang terjadi adalah sebuah gelombang susulan dengan kekuatan yang lebih dahsyat. Ironisnya, perusahaan AS Exxon yang ada di sana, luput dari bencana itu. Sehingga ada dugaan keras, ada senjata pemusnah massal yang diarahkan ke sana," paparnya.

    Usai kejadian itu, lanjut dia, tentara AS di kapal induk USS Abraham Lincoln yang jumlahnya 15.600 personil langsung diterjunkan. Sementara Kopassus dan Pasukan Reaksi Cepat (PRC), yang fungsinya sebagai penanggulangan bencana sama sekali tak diturunkan. Sementara India, Srilanka dan Thailand menolak kehadiran tentara asing itu. Televisi Al Jazeera pernah menyiarkan, bahwa bencana di Aceh bukanlah akibat gelombang tsunami. Akan tetapi sebuah bom helium yang bersifat halus namun mematikan.

    "Kami menduga India memang sudah tahu akan adanya bencana itu. Karena negara itu justru punya pencatat gempa, yang bisa membedakan mana gempa sungguhan dan mana gempa buatan. Di India di Tamil Nadu, merupakan pusat nuklir. Sehingga sudah terdeteksi dulu."

    Menurut Eggi, Joe Vialls tahu benar senjata termonuklir yang diledakkan di bawah laut akan menimbulkan gelombang dahsyat. Sementara jika tsunami, ketinggian gelombang maksimal, tidak akan mencapai seperti yang terjadi di Aceh. "Sejarah juga mencatat, selamanya tsunami tidak berdampak membakar korbannya, karena air. Namun sempat ditemukan tiga orang anak nelayan Aceh yang terbakar dengan tubuh penuh oli."

    Disinggung rencana besar apa di balik itu, Eggi mengatakan, AS ingin menjadikan pangkalan militernya di Aceh. Hal itu dikuatkan dengan ditolaknya percepatan militer itu untuk segera mengakhiri bantuannya di sana. Aceh juga akan dijadikan jaringan pasar bebas perdagangan AS. "Dalam kontek ini, SBY lemah, intelijen kita juga lemah. Apalagi TNI," jelasnya.

    Nah gimana menurut teman2 apa tsunami aceh itu mutlak bencana alam atau memang ada Negara adikuasa yang merancang semuannya.

    Seperti keadaan sekarang, beberapa negara Islam di timur tengah bisa mendadak kacau secara bersamaan. apakah mungkin rakyat ingin demokrasi ataukah ada Negara adi kuasa yang mengatur semuanya..

    http://situslakalaka.blogspot.com/2011/02/biadab-kedok-amerika-dibalik-tragedi.html

    Karlina, Sang Guru Anak-anak Orang Rimba




    Wanita lajang ini menjadi guru anak Orang Rimba bergabung dengan kelompok aktivis
    LSM Lingkungan Warung Informasi (WARSI). Dia sudah bergabung sejak 2009 silam, setelah setahun sebelumnya menggondol sarjana antropolog. Karlin, begitu sapaan akrabnya, memang tipe wanita yang suka petualang. Dia rela meninggalkan jauh keluarganya di Yogyakarta. Pilihannya ingin mengabdikan kemampuannya untuk anak Orang Rimba, suatu kelompok masyarakat pedalaman di Kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) nan jauh dari hingar bingarnya hidup di perkotaan.

    "Ketika awalnya memilih pekerjaan seperti ini, sempat ada teguran dari orangtua. Ya mungkin semua orang juga berpikiran ingin hidup dan bekerja di tempat yang bersih, tidak seperti saya hidup di tengah hutan belantara," kata Karlin dalam perbincangan dengan detikcom beberapa waktu lalu.

    Tapi yang namanya hidup, merupakan pilihan dan kesenangan. Karlin bisa meyakinkan
    pada keluarganya, bahwa alternatif yang dipilihnya sebagai bentuk tantangan tersendiri dalam hidupnya. Hatinya terpanggil ingin mengabdi tanpa pamrih pada anak Orang Rimba ini, ketikanya di bangku kuliah sempat melihat sebuah iklan di TV. Di mana sosok wanita tangguh yang dikenal dengan nama Butet -kala itu bekerja di Warsi- menjadi guru anak Rimba.

    Dari sana, Karlin yang juga hobi panjat gunung ini merasa terpanggil. Dia ingin setelah meraih sarjana, kelak bisa bergabung bersama Warsi. Kelompok aktivis Warsi sendiri sejak tahun 1998 silam sudah membuat kelompok belajar alternatif untuk anak-anak Rimba itu.

    Kebetulan ketika itu Warsi membuka lowongan buat tenaga pengajar bagi anak Orang Rimba. Setelah bergabung, tahap awal Karlin harus beradaptasi dengan situasi dan suasana di lingkungan hutan belantara itu. Untuk menempuh jalur ke kawasan hutan, cewek bertubuh mungil ini, harus berjalan kaki menelusuri perbukitan. Di kawasan penyanggah TNBD, memang disana ada Posko Warsi. Dari sana, Karin harus beranjak kembali menuju perkampungan Orang Rimba. Paling dekat dari Posko Warsi, dia berjalan minimal satu jam. Namun demikian masih ada kelompok Orang Rimba lainnya yang jauh di tengah kawasan hutan yang harus ditempuh berjalan kaki selama 9 jam.

    "Kita tidur di Posko Warsi yang ada di pinggir taman. Orang Rimba baik-baik, bila mereka berhasil berburu, saya pasti diberi dagingnya," kata Karlin.

    Awalnya, Karlin tidak membayangkan kondisi Orang Rimba yang sesungguhnya. Fakta di
    lapangan, ketika pertama kali menginjakkan kaki di pemukiman Orang Rimba, dia terkejut ternyata masih ada rumah beratapkan terpal tanpa dinding. Kaum wanitanya hanya mengenakan kemben dan masih banyak anak-anak tanpa busana.

    "Walau sudah banyak baca buku tentang suku-suku di Indonesia, namun masih sulit dipercaya kalau zaman sekarang masih ada komunitas marginal seperti Orang Rimba," kata Karlin yang sebelum masuk UGM merupakan tamatan dari SMK Cipta Karya, Medan
    itu.

    Tidak terlalu sulit memang baginya beradaptasi dengan lingkungan Orang Rimba. Ini dimungkinkan, karena aktivitas Warsi selama ini sudah cukup dekat dengan masyarakat
    Rimba. Sehingga dengan membawa nama Warsi, kelompok masyarakat Rimba bisa menerima dengan terbuka.

    "Senangnya mereka selalu terbuka dengan saya, mungkin karena mereka sudah percaya
    sama Warsi, jadi begitu saya masuk boleh dikata tidak ada halangan yang berarti dalam bergaul dengan mereka," lanjut gadis asal Yogyakarta ini.

    Tugas mengajar menulis dan berhitung dijalankannya dengan senang hati. Ada sekitar 30-an anak Rimba yang membutuhkan tegananya. Dari jumlah itu, mereka tidak satu lokasi. Mereka terdiri dari kelompok yang berbeda dan lokasi yang berbeda.

    "Kebetulan anak-anak rimba sangat cepat menangkap, dan mereka sangat antusias setiap kali belajar," ujar Karlin.

    Proses belajarnya, Karlin harus berdiam diri selama dua pekan di dalam hutan dua pekan lainnya beristirahat di Kota Jambi. Papan tulis dan kapur serta sejumlah buku, pena dan pensil selalu menyertainya, dalam setiap kunjungan ke komunitas Orang Rimba.

    "Kalau kertasnya habis, ya kami pakai apa yang bisa untuk ditulis, kadang pakai kertas bekas bungkus rokok juga pernah," sebutnya.

    Proses belajarnya pun tidak sama dengan dunia pendidikan normal yang memiliki ruangan kelas yang bagus. Anak-anak Orang Rimba ini belajar di alam terbuka. Mereka duduk bersama di bawah pohon rindang, kadangkala mereka belajar di tepi sungai. Tidak ada juga jam pelajaran sebagaimana umumnya. Perlu kesabaran ekstra agar dapat
    mengumpulkan anak-anak Rimba itu.

    "Kapan mereka kumpul, baru kita belajar. Jadi bisa saja belajarnya pagi, siang atau sore. Kalau malam jelas tidak bisa, karena tidak ada listrik," kata Karlin.

    Dalam bertugas, tidak hanya sekadar mengajar baca dan tulis saja. Lembaga tempat dia bekerja juga melakukan advokasi untuk pendidikan anak-anak Orang Rimba. Sebagaimana misi Warsi yang juga menghubungkan Orang Rimba dengan jalur pendidikan formal, terutama untuk Orang Rimba yang berada dekat dengan fasilitas pendidikan.

    "Ada juga Orang Rimba yang sudah dekat dengan pemukiman, seperti Orang Rimba di Desa Kedudung muda, mereka sekitar 2 jam perjalanan keluar rimba sudah ketemu sekolah formal. Untuk anak-anak di kelompok ini, kami usahakan mereka untuk bisa mengikuti pendidikan sekolah formal," jelas wanita berkulit kuning langsat ini.

    Bagi anak-anak yang dekat dengan sekolah formal ini, rata-rata mereka telah mengikuti sekolah alternatif yang diselenggarakan Warsi. Mereka sudah bisa membaca, menulis dan berhitung serta sedikit pengetahuan umum. Kemudian mereka didaftarkan ke sekolah terdekat untuk mengikuti sekolah kelas jauh.

    "Mereka kita daftarkan di sekolah formal, walau bukan langsung sekolah setiap
    harinya, namun diatur jadwalnya dengan guru sekolah bersangkutan. Kemudian dipilih
    tempat untuk pertemuan, biasanya dilakukan di kantor lapangan kita," tambah Karlin.

    Hasilnya lumayan, dalam beberapa tahun ini anak-anak rimba sudah ada yang mengikuti
    ujian persamaan UAN. "Walau belum terlalu banyak, tapi tahun kemarin sudah ada 3 orang yang lulus UN, namun sayang mereka belum lanjut ke jenjang berikutnya, lagi-lagi terkedala jarak yang jauh dengan SMP terdekat," kata Karlin.

    Tidak hanya itu, sebaran Orang Rimba yang cukup luas, yang terbagi dalam tiga kelompok besar, yaitu di TNBD, selatan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) dan sepanjang jalan lintas Sumatera mulai dari batas Jambi-Sumatera Selatan sampai Batas Jambi-Sumbar. Di beberapa tempat di Jalan Lintas, Warsi juga mengadvokasikan pendidikan formal untuk anak-anak rimba. Selain langsung menghubungkan dengan pihak sekolah, staf pendidikan juga melakukan advokasi ke pemerintah.

    "Bagaimana pun pendidikan hak semua orang, dan negaralah yang berkewajiban untuk memenuhi hak tersebut, kami dari Warsi mendorong supaya negara lebih tanggap dan lebih berkomitmen untuk pendidikan Orang Rimba," ucap Karlin.

    Apalagi sebagian besar Orang Rimba di jalan lintas sudah berintegrasi dengan kelompok masyarakat Melayu maupun masyarakat transmigrasi. "Sarana pendidikan sebenarnya sudah sangat dekat dengan mereka, hanya stigma yang dilekatkan kelompok masyarakat lain pada Orang Rimba seringkali menyebabkan mereka tidak diterima bersekolah di sekolah formal. Ini yang terus kami upayakan supaya negara dapat mengambil peran untuk memenuhi hak-hak masyarakat adat seperti halnya Orang Rimba," harap Karlin.

    sumber : http://www.detiknews.com/read/2011/02/28/105801/1580963/608/karlina-sang-guru-anak-anak-orang-rimba?nd991107608

    Keterlaluan! Tahanan Wanita Dipaksa Oral Seks 3 Oknum Polisi


    foto ilustrasi


    Jayapura
    - Lagi-lagi aksi anggota polisi di Papua mencoreng korps Polri. Setelah pekan lalu, 4 oknum polisi menggauli seorang ABG berumur 15 tahun, kali ini lagi-lagi ada empat oknum polisi yang bertindak tidak senonoh. Mereka memaksa seorang tahanan wanita melakukan oral seks.

    Sebut saja Bunga, sang wanita itu. Dia ditangkap dan ditahan polisi sejak November 2010 karena kasus perjudian. Bunga yang tidak berdaya di tahanan itu telah mendapat perlakuan tak terpuji dari tiga oknum polisi bejat itu pada bulan November 2010, tak lama setelah masuk tahanan.


    Namun, kasus ini baru terendus pers, usai Bunga dipindahkan ke sel Lembaga Pemasyarakatan (LP) Abepura.


    Kapolda Papua Irjen Bekto Suprapto saat dikonfirmasi pers, Senin (28/2/2011) membenarkan perilaku memalukan bawahannya itu. Bekto menuturkan, tindakan ketiga oknum itu sungguh sangat memalukan dan mencoreng institusi. "Tindakan mereka sangat biadab dan memalukan," tegas dia.


    Menurut Bekto, ketiga pelaku sudah mengakui perbuatan tercela tersebut. "Selain ketiga oknum itu sudah mengakui perbuatannya, korban juga sudah mengaku," aku dia.


    Kapolda juga mengatakan bahwa ketiga pelaku sudah diberi sanksi. Namun, sayangnya, ketiga pelaku ini hanya diganjar hukuman disiplin.


    sumber : http://www.detiknews.com/read/2011/02/28/192725/1581586/10/keterlaluan-tahanan-wanita-dipaksa-oral-seks-3-oknum-polisi?nd991103605

    Pesta Ini Pesta Kami Rakyat Tangsel Bukan Sekedar Pesta Para Petarung

    Usai sudah gelar Pilkada Ulang Tangsel 27 Feb 2011 yang berdasar hasil Quick Count dimenangkan pasangan no.4 Airin - Benyamin.
    Ada masa saya tak peduli siapa para petarung itu, ada masa saya tertarik mencermati mereka satu persatu dan ada masanya saya harus menentukan pilihan karena ini Pesta Kami, Pesta Rakyat bukan Pesta Para Calon Elite Penguasa.

    Pesta ini layak dinikmati, walau harap tak serta merta terwujud seperti mimpi yang diimpikan.

    Ada suka, ada puja, ada hujat ada maki, semua ditabur hanya demi masa depan penuh harap.


    Ada tali yang tersambung, ada utas yang terputus, tapi bukan menghilangkan keduanya, masih ada salam yang tak lekang, masih banyak kesamaan yang terlupa, masih ada sapa diatara kecam sesaat.

    Pilhan ini bukan semata mencari pemenang, pilihan ini langkah awal jelang pertarungan yang sebenarnya, pertarungan panjang mengawal percaturan elite kekuasaan., pertarungan menyamakan tujuan antara Rakyat dan Pimpinannya.


    Bila aku memilih A hari ini, aku memilihnya dengan bersiap untuk kecewa. Aku juga memilihnya bukan untuk selama-lamanya. Aku hanya memilihnya sebagai sarana yang saat ini kurang cacat di antara yang amat cacat – sarana sementara untuk mencegah luka lagi, meskipun pencegahan itu tak pernah pasti.
    Politik adalah tugas merambah jalan di belukar membuka celah agar keadilan itu datang. Terkadang tangan jadi kotor, hati jadi keras--dan itu menyebabkan rasa sedih tersendiri.
    Di depan belukar itu, kita berjudi dengan masa depan. Siapa yang menuntut kepastian penuh dari sejarah akan mendustai diri sendiri. Selalu ada saat untuk bertindak dan memihak – juga ketika kita menolak untuk bertindak dan memihak.
    Tapi pada saat yang sama juga ada saat untuk berdiri agak menjauh. Terkadang dengan ironi, terkadang dengan penyesalan, tapi selamanya dengan kesetiaan: di dunia yang berdosa, pilihan kita bisa salah, tapi tugas tak henti-hentinya memanggil dan politik selamanya meminta. Kita mungkin gagal. Meski demikian, tetap ada yang berharga yang kita perkelahikan.
    (Cuplikan dari Catatan Pinggir Gunawan Muhammad/Tempo, 08 Juni 2009).
    Sebagai masyarakat yang menjadi obyek pecatur poltik, keadaan memaksa saya harus memahami perilaku para pelakunya, bukan ingin menjerat kekuasaan atau menjala kehidupan melaluinya.

    Dan dengan adanya Pilkada ini saya mulai menulis, belajar berpikir dalam rangkai kata, merajut duga dibalik kata.

    Selamat Bagi Para Pemenang, Salam Buat Para Simpatisan, Salut Buat Para Petarung, Terima Kasih Buat Para Sponsor. Anda semua telah mebuat Tangsel bersinar dan kami pun bangga menjadi penghuninya.

    :)

    cahPamulang

    Pamulang, dini hari
    (menunggu hasil Real Count dengan harapan ada keajaiban diesok hari walau itu mustahil terjadi sambil menulis setelah sekian waktu menjadi jalang tak kepalang)
    28 Feb 2011


    Notes :
    1. Wangsit penulisan, GM Quote by TI , Image 3 by AW
    2. Catatan Pilkada versi cahPamulang dan kawan ada di http://pilkadahebat.blogspot.com/
    3. FB cP Tobat dibuat sebagai ganti akun ori yang ditelan jalangnya Pilkada :)

    Inilah Rahasia Trik Navigasi Menakjubkan Penyu

    Ilmuwan berhasil memecahkan misteri kemampuan navigasi penyu yang menjangkau ribuan mil menuju pantai untuk menetas. Bagaimana cara penyu mengetahui arah tujuan?

    Headline

    Loggerhead turtles (penyu tempayan) berkembang biak di tepi Laut Tengah, Afrika Barat, Brasil dan sepanjang pantai tenggara Amerika Serikat.

    Dalam waktu 24 jam setelah menetas, penyu itu kembali ke laut untuk memulai perjalanan menakjubkan searah jarum jam di sekitar Samudera Atlantik berjarak ribuan mil. Hebatnya, penyu betina akan kembali ke pantai untuk melihat kelahiran bayi penyu.

    “Bagian paling sulit adalah melakukan navigasi terbuka di laut dalam menentukan posisi bujur atau timur ke laut,” kata ilmuwan Nathan Putman dari University of North Carolina.

    Ilmuwan sebelumnya telah mengetahui makhluk ini menggunakan perubahan medan magnet bumi untuk memberi tahu mereka sisi utara ke selatan sehingga mengarahkan diri sepanjang garis lintang. Namun ilmuwan belum tahu bagaimana penyu memahami sisi bujur dari timur ke barat.

    Kini ilmuwan tidak bisa lagi meremehkan kemampuan penyu. Hewan ini ternyata menggunakan medan magnet bumi untuk menciptakan sistem pemetaan mental yang mencakup empat poin utama dalam kompas yaitu utara, timur, selatan dan barat.

    Para peneliti percaya penyu menciptakan pemetaan magnetic di pemikiran mereka dengan mengkombinasi informasi tentang sudut medan magnet dan intensitas magnetik.

    “Meskipun banyak binatang yang mampu mendeteksi kemiringan atau intensitas magnetic saat penentuan bujur, namun penyu tempayan mampu menganalisis kedua parameter magnetik yaitu bujur dan lintang,” kata Putman lagi dalam jurnal Current Biology.

    sumber : http://teknologi.inilah.com/read/detail/1273212/inilah-rahasia-trik-navigasi-menakjubkan-penyu

    Wow ! Kini Belajar Masak Bisa Lewat Google

    Headline

    Apa Anda sedang belajar memasak dan ingin menjadi seorang koki handal? Kini Google memberikan fitur ‘Recipes’ bagi Anda yang sedang belajar memasak. Seperti apa?

    Fitur baru ini diluncurkan pekan ini dan berapa pada sisi kiri layar pencarian Google. Fitur ini akan mempersempit pencarian terkait berbagai macam resep makanan. Pengguna bisa mencari resep dengan memasukkan nama makanan.

    Tak hanya nama makanan, pengguna juga bisa memasukkan jenis makanan itu, bumbu, atau hanya dengan menyebutkan saosnya. Kemudian, hasil pencarian akan lebih dipersempit berdasarkan bahan, waktu penyajian dan kandungan kalori.

    “Kami menyadari bahwa resep masakan merupakan pencarian populer. Kami pun secara konstan berusaha meningkatkan pengalaman pencarian resep itu,” kata manajer produk proyek Recipes Google Kavi Goel.

    Google melayani 10 juta pencarian resep makanan tiap hari. Menurutnya, jumlah itu cukup signifikan dan membuat Google harus memperhatikan kebutuhan para pencari resep masakan. Dalam hal ini, Google mengikuti jejak situs web pencari resep seperti Foodily dan Yummly.

    Pesaingnya, mesin pencarian Bing milik Microsoft pun sudah lebih dulu memiliki fitur ini. Sementara Bing menambah fitur menyaring resep berdasar asal situs, metode memasak dan latar negara asal makanan. Google memiliki kelebihan menyertakan takaran kalori dan waktu memasak yang tepat.

    Namun belum semua pengguna Google bisa memanfaatkan fitur baru ini. Recipes baru tersedia untuk Google berbahasa Inggris dan Jepang. Negara-negara lain akan segera menyusul dalam waktu dekat.

    sumber : http://teknologi.inilah.com/read/detail/1274572/wow-kini-belajar-masak-bisa-lewat-google

    Terlalu Sadis, Australia Blokir Mortal Kombat

    Game legendaris Mortal Kombat seri terbaru hampir dipastikan tak akan masuk Australia. Pasalnya, lembaga setempat menemukan banyak adegan sadis dalam game itu.

    Headline


    Lembaga Classification Board, penentu rating di Australia, menetapkan game Mortal Kombat berstatus RC alias Refused Classification. Artinya, game itu termasuk dalam game paling brutal dan dilarang diperjualbelikan.

    The Register melaporkan, Australia diduga akan menghambat upaya pembelian game berstatus RC itu melalui internet. Sementara itu, pengembang game, Warner Bros, tak menerima keputusan itu.

    Pengembang game itu akan melakukan banding ke pengadilan setempat. “Kami menolak Mortal Kombat karena game itu penuh adegan sadis seperti memotong bagian tubuh, memenggal kepala hingga menyobek perut,” kata juru bicara Classification Board. “Tampilan game itu pun sangat detil dan realistik,” tutupnya

    sumber : http://teknologi.inilah.com/read/detail/1274612/terlalu-sadis-australia-blokir-mortal-kombat

    Kode Genetik Bisa Diketahui Lewat Aplikasi Ponsel

    Peneliti Perancis berhasil mengembangkan perangkat lunak baru. Perangkat lunak baru ini bisa memperlihatkan orang kode genetik komplitnya melalui smartphone.

    Headline

    Perangkat lunak yang dikembangkan empat ilmuwan dari Bordeaux, barat daya Prancis, itu sedang dalam tahap pengembangan di Amerika Serikat (AS). Pasalnya, penguraian genetik sangat dibatasi karena adanya hukum etika Prancis.

    Aplikasi DNA itu mengubah data yang diperoleh dari uji DNA menjadi informasi tiga gigabytes yang siap diakses. Informasi ini akan menyorot risiko potensial kesehatan seseorang, seperti prediksi kanker payudara yang disertai peringatan dengan simbol merah.

    "Aplikasi ini dirancang untuk pencegahan dan kewasapaan," kata pendiri proyek Patrick Merel.

    Merel bersama rekannya mendirikan sebuah perusahaan, Portable Genomics, di Kalifornia. Di Prancis, penguraian genetik hanya bisa dilakukan oleh dokter dan untuk kepentingan medis.

    Namun anggota National Ethics Council and Research Director French National Centre for Scientific Research Patrick Gaudray mengatakan bahwa data yang diperoleh dari pindai DNA tak selalu dapat diandalkan dan hanya terbatas pada aplikasi medis saja.

    Meski begitu, Merel tak mengetujui pendapat Gaudray. "Gen kita adalah milik kita,” katanya. “Mengapa kita tak punya akses pada gen kita?" tutupnya.

    sumber : http://teknologi.inilah.com/read/detail/1274712/kode-genetik-bisa-diketahui-lewat-aplikasi-ponsel

    Pilkada Hebat Tangsel: Versi LSI Juga Unggulkan Airin-Benyamin

    undefined

    Jakarta
    -Lembaga Survei Indonesia (LSI) memprediksi kemenangan pasangan Airin Rachmi Diany dan Benyamin Davnie dalam pemilihan Wali Kota Tangerang Selatan melalui hitung cepat (quick count) yang digelar lembaganya.

    "Airin unggul dengan 54,31 persen sementara Arsyid memperoleh 43,4 persen," ujar Deni Irvani, peneliti LSI dalam konferensi pers yang digelar di kantor LSI, Jalan Lembang Terusan, Menteng, Jakarta Pusat, sore ini (27/2). Sementara itu Yayat Sudrajat memperoleh 1,1 persen suara, dan Rodhiyah memperoleh 1,19 suara.

    "Dengan demikian diprediksikan Airin dan Davnie memenangkan Pilkada dalam satu putaran, karena memperoleh lebih dari 30 persen suara," ujarnya menambahkan.

    Dari hitung cepat ini, pasangan Airin-Davnie menyapu bersih kemenangan di tujuh kecamatan di Tangerang Selatan. Di Ciputat, Airin memenangi 56,67 persen suara, Ciputat Timur 52,74 persen, Pamulang 53,46 persen, Pondok Aren 54,62 persen, Serpong 51,11 persen, Serpong Utara 54,82 persen, dan Setu 58,95 persen.

    Sementara itu di Ciputat kubu Arsyid memperoleh 40,26 persen, di Ciputat Timur 45,09 persen ,di Pamulang 44,04 persen, Pondok Aren 43,42 persen, Serpong 46,89 persen, Serpong Utara 43,46 persen dan Setu 38,76 persen.

    Hitung cepat ini dilaksanakan dengan mengolah hasil penghitungan suara dari 410 TPS dan dianggap mampu merepresentasikan hasil penghitungan di seluruh TPS di Tangerang Selatan yang berjumlah 1890 buah.

    Dalam survey ini sample dipilih dengan menggunakan metode kombinasi Stratified-Cluster Random Sampling dan toleransi kesalahan sebesar +/- 1 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

    Dari 410 TPS yang direncanakan, baru 406 TPS yang bisa diolah datanya oleh LSI untuk memperoleh hasil hitung cepat. "Empat TPS datanya masih belum masuk, tapi itu tidak mempengaruhi hasil quick count," ujarnya.

    Pilkada Hebat Tangsel: Untuk Sementara, PUSKAPTIS Unggulkan Airin

    undefined

    Jakarta
    -Lembaga Survei Indonesia (LSI) memprediksi kemenangan pasangan Airin Rachmi Diany dan Benyamin Davnie dalam pemilihan Wali Kota Tangerang Selatan melalui hitung cepat (quick count) yang digelar lembaganya.

    "Airin unggul dengan 54,31 persen sementara Arsyid memperoleh 43,4 persen," ujar Deni Irvani, peneliti LSI dalam konferensi pers yang digelar di kantor LSI, Jalan Lembang Terusan, Menteng, Jakarta Pusat, sore ini (27/2). Sementara itu Yayat Sudrajat memperoleh 1,1 persen suara, dan Rodhiyah memperoleh 1,19 suara.

    "Dengan demikian diprediksikan Airin dan Davnie memenangkan Pilkada dalam satu putaran, karena memperoleh lebih dari 30 persen suara," ujarnya menambahkan.

    Dari hitung cepat ini, pasangan Airin-Davnie menyapu bersih kemenangan di tujuh kecamatan di Tangerang Selatan. Di Ciputat, Airin memenangi 56,67 persen suara, Ciputat Timur 52,74 persen, Pamulang 53,46 persen, Pondok Aren 54,62 persen, Serpong 51,11 persen, Serpong Utara 54,82 persen, dan Setu 58,95 persen.

    Sementara itu di Ciputat kubu Arsyid memperoleh 40,26 persen, di Ciputat Timur 45,09 persen ,di Pamulang 44,04 persen, Pondok Aren 43,42 persen, Serpong 46,89 persen, Serpong Utara 43,46 persen dan Setu 38,76 persen.

    Hitung cepat ini dilaksanakan dengan mengolah hasil penghitungan suara dari 410 TPS dan dianggap mampu merepresentasikan hasil penghitungan di seluruh TPS di Tangerang Selatan yang berjumlah 1890 buah.

    Dalam survey ini sample dipilih dengan menggunakan metode kombinasi Stratified-Cluster Random Sampling dan toleransi kesalahan sebesar +/- 1 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

    Dari 410 TPS yang direncanakan, baru 406 TPS yang bisa diolah datanya oleh LSI untuk memperoleh hasil hitung cepat. "Empat TPS datanya masih belum masuk, tapi itu tidak mempengaruhi hasil quick count," ujarnya.

    CATATAN UNTUK ARSID (9)

    ARSID BUKAN PENGUSAHA, maka ia tak akan menemui kendala untuk memisahkan antara kepentingan pemerintah (public) dengan kepentingan bisnis (private) yang self-serving dan self-seeking. Itulah salah satu keunggulan Arsid, di samping pengalamannya sebagai camat telah membuatnya memiliki kesadaran moral tentang kekuasaan sebagai alat untuk melayani masyarakat, dan bukan sebaliknya: merampas hak warga. Ia juga sosok yang kuat secara kategoris, prinsipil dalam semangat pelayanan dan pengorbanan serta mampu berkomitmen pada kemaslahatan umum--dan bukan kepentingan parsial.

    Pernah ada pertanyaan, apakah seorang camat itu sebenarnya lebih berperan sebagai sosok perwakilan penguasa yang birokratik dan otokratik, ataukah ia justru cenderung berfungsi sebagai bagian dari kekuatan baru yang dikehendaki agar ikut mendorong proses demokratisasi?. Saya melihatnya tiap camat memiliki peluang besar untuk ikut mendorong proses demokratisasi. Sebab kita tahu, camat—meski tak selalu mudah—adalah orang yang bertugas di garis terdepan untuk selalu bertatap muka dengan warga, hingga ia tak akan bisa menghindar dari posisinya sebagai public servant (abdi masyarakat) dalam kehidupan bernegara.

    Artinya, dengan segala kemampuan yang berbeda-beda, tiap-tiap camat akan selalu dituntut untuk memiliki kemampuan serta menjalankan fungsi sebagai pemecah masalah di wilayahnya sesuai dengan prinsip-psinsip demokrasi: from the people, by the people, for the people. Dan, Arsid telah berhasil melewati “tahapan” itu dengan melihat demokrasi sebagai sebuah sarana untuk mendorong terciptanya ruang-ruang publik yang dapat digunakan oleh tiap warga yang merdeka, baik dalam arti pribadi-individual maupun kelompok, untuk menandai dirinya dari segala tujuan hidup—baik yang mayoritas maupun minoritas.

    Maka tak heran bila Arsid—yang memiliki karakter nafsul mutmainnah; jiwa yang tenang dan bersih--berhasil mendorong apa yang disebut sebagai ruang yang “soliter” untuk digantikan oleh yang “solider” di kota ini. Ia berhasil membangun rasa kebersamaan yang kuat di tengah situasi kota yang terus mendorong kita untuk makin berjarak dengan banyak hal, ketika penderitaan (seakan-akan) milik masing-masing: tak punya kesempatan untuk dibagi. Ketika banyak orang melihat kemeja necis Emiglio Zegna, Ralph Lauren, atau Hugo Boss, tanpa pernah peduli siapakah nama-nama itu: apakah ia seorang desainer atau selebriti yang namanya dipinjam untuk merk.

    Kita tahu, pernah ada cita-cita untuk membangun pilihan lain agar manusia bisa kembali menikmati hidup bukan sebagai komoditas belaka. Arsid berkampanye dengan menggugah kesadaran bahwa tak selamanya hal ikhwal harus melulu punya “nilai-tukar”. Ia mencoba membangun pemahaman: manusia tak selama-lamanya makhluk yang hidup dengan subyektivitasnya sendiri, melainkan juga dengan “inter-subyektivitas”—dan sebab itu, bahkan dalam keadaan berat, kita (mestinya) masih bisa menyempatkan diri untuk memikirkan perasaan orang lain.

    Tapi mungkin juga yang hendak dipertahankannya adalah Tangerang Selatan sebagai ingatan yang berharga. Seperti Indonesia, sejak kanak-kanak, kita diberi rasa bangga akan sebuah negeri yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Kenangan itu sangat intim dan telah menjadi bagian dari identitas kita. Kenangan tentang sebuah “Indonesia” yang merekam niat mulia yang hendak menjabat tangan orang lain yang berbeda dengan ikhlas. Toh, Arsid melihat demokrasi sebagai way of life, pandangan hidup, serta tata nilai yang mampu mendorong terbangunnya sikap egaliter dan transparan.

    Saya rasa itulah jawaban mengapa pasangan Arsid-Andre memperoleh suara yang signifikan pada pilkada 13 November 2010. Keduanya tak berkonsentrasi pada “aku” sebagai pusat situasi, tapi “kita”—dengan cita-cita bersama. Arsid melawan monolog. Baginya, kemerdekaan berpikir, kemerdekaan berpendapat, akhirnya juga berarti kemerdekaan untuk jadi percakapan yang tulus, lengkap dengan kerendahan hati. Ia percaya, dalam diri tiap manusia ada yang menyebabkan orang—dengan otonomi penuh—menghormati dan mematuhi panggilan hukum moral: ketika diam-diam kita menolak suap untuk memilih kandidat tertentu, juga menolak untuk turut serta dalam rekayasa persoalan agar dapat dituduhkan ke lawan politik.

    Kita tahu, siapa pun tak dapat meniadakan persaingan politik, tapi kita juga menyadari tak mungkin—juga tak boleh--ada kekuasaan yang mutlak membentuk masyarakat. Saya melihat ini sebagai sebuah sikap yang dapat diterima semua orang yang berakal-budi. Toh, dalam ketiadaan tempat berpegang, orang umumnya akan berpihak pada nurani. Kita sama-sama tahu, saat ini di Tangerang Selatan, kegelisahan bukan hanya hinggap di dada para aktivis lembaga swadaya masyarakat maupun kelompok prodemokrasi, tapi juga di hati warga biasa: bahkan yang sehari-harinya membaca Esquire, Dewi atau Cosmopolitan—tapi kini merasa terpanggil untuk memikirkan sesama yang lain.

    Sebab kita tahu, di kota ini, monster bernama totalitarianisme sedang merangkak keluar dari sarangnya untuk melumat apapun yang bisa dilumat, terutama demokrasi. Dan orang segera cepat merasakan ada ketidakadilan dengan tajam, terutama saat menyaksikan demokrasi—secara terbuka--sedang dirampok pelbagai kepentingan demi kuasa dan harta melalui politik uang. Kita sadar, politik yang terjangkit mental totalitarianisme akan (selalu) sulit membangun pranata hukum, bisnis, demokrasi, bahkan kekuasaan yang tahan zaman, sebab hubungan sosial yang dikedepankan adalah semangat untuk saling menjegal, bahkan menghancurkan.

    Pada tataran ini, konsep persaudaraan hanya dijadikan retorika. Bagi saya, totalitarianisme mengingatkan kita pada konsep “kesatuan” yang diimani Hitler, Stalin, dan Mao—yang terasa sebagai horor. Kesatuan bisa terasa sebagai palu godam yang menghantam mereka yang disingkirkan karena dianggap tak satu golong­an, tak cocok untuk ”bersatu”: mereka yang berbeda pendapat. Yang merisaukan dalam pandangan itu adalah ketika ia tak mengakui fondasi bersama manusia yang kekal dan dapat dijadikan pegangan semua.

    Situasi ini tentu tak menyehatkan bagi Tangerang Selatan ke depan, dan sebab itu mesti dicegah. Hal ini menjadi penting mengingat, seperti kata Richard Goldstone dalam Human Right in Political Transitions, yakni without justice, without acknowledgement, future evil leaders will more easily be able to manipulate historic grievances: tanpa keadilan, tanpa pengakuan, pemimpin-pemimpin yang jahat di masa depan akan dapat lebih mudah memanipulasi keluhan-keluhan historis. Arsid memang sedang mencoba mengatasi kerumitan ini. Ia, bagai ninja yang menyelinap di sebuah kastil agung mencoba memulai perlawanan: menghentikan angkara murka. Dan sebab itu, kita (juga) melawan.

    Mereka mungkin punya banyak uang, tapi, kita punya satu “senjata” yang paling ampuh dari senjata apapun di belahan bumi ini. Senjata itu adalah penolakan kita untuk tunduk pada otoritas “luar” selain otoritas kita sendiri. Penolakan kita pada totalitarianisme yang sedang diusung beramai-ramai di kota ini. (*)
     
    ARU WIJAYANTO
    Tangerang Selatan, 26 Februari 2011

    CATATAN UNTUK ARSID (8)

    Saya beberapa kali ditanya oleh sejumlah orang: mengapa Arsid tidak pernah membicarakan isu pendidikan sebagai materi kampanye? Apakah Arsid tidak punya konsep tentang pendidikan?. Awalnya saya malas menjawab karena pertanyaan diajukan dengan sikap yang kurang bersahabat, tapi akhirnya saya jawab: Arsid meletakkan paradigma pendidikan—baik kebijakan, sistem, maupun praksis—bukan sebagai sarana pemenangan politik pragmatis. Ia lebih melihat pendidikan sebagai sebuah rekayasa budaya—mendambakan manusia memiliki prinsip hidup—dan tidak sebagai kendaraan kampanye politik. Sebab itu kita menghormatinya.

    Bagi saya, reformasi pendidikan adalah sebuah rekayasa besar yang tidak dapat dikerjakan setengah hati, apalagi bila hanya pada masa kampanye saja, juga bila hanya sepenggal-sepenggal. Dalam era otonomi pendidikan saat ini sebenarnya telah membuka peluang bagi sektor pendidikan di daerah agar lebih berkualitas—yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Arsid pasti memahami bahwa kepala daerah memiliki kewenangan penuh dalam menentukan kualitas pendidikan di daerahnya—bahkan hingga soal teknis seperti penentuan sistem evaluasi.

    Artinya, meminjam terminologi school based management, kualitas pendidikan untuk masa mendatang memang lebih bergantung pada komitmen daerah untuk merumuskan visi dan misi di daerahnya masing-masing. Bila daerah cukup visioner dan memiliki political will yang kuat—disertai kebijakan yang mengedepankan arti penting pendidikan sebagai upaya human investment di daerah—maka kualitas praksis pendidikan akan dapat ditingkatkan sesuai harapan stakeholders.

    Pertanyaannya, bagaimana sistem pendidikan yang sekiranya tepat untuk Tangerang Selatan?. Saya yakin, Arsid, seperti kita semua, akan mengawalinya dengan menggunakan parameter keberhasilan peserta didik bukan saja dari IQ (intelligence quotient)--perolehan aspek kognitif, yang tercermin dari perolehan nilai—tapi juga EQ (emotional quotient); sebuah kemampuan menahan diri, mengendalikan emosi, memahami emosi orang lain, bermotivasi tinggi, memiliki ketahanan dalam menghadapi kegagalan, dan sebagainya.

    Toh, ini menjadi penting mengingat Tangerang Selatan sebagai kota multikultur, maka pendidikan yang dibangun harus berorientasi pada sistem pembelajaran dengan mengembangkan kepribadian yang dewasa, terbuka, dan toleran terhadap kultur di luar dirinya tanpa mengabaikan budaya sendiri. Ini sama artinya dengan kesadaran bahwa tiap manusia adalah pribadi-pribadi yang unik serta mempunyai bakat yang berbeda dengan yang lainnya.

    *****

    Saya melihat ada dua hal utama yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan upaya membangun pendidikan di Tangerang Selatan, di antaranya: (1) Sistem pendidikan yang berorientasi pada nilai (wertorientier). Ini harus diawali dengan pemahaman bahwa tujuan pendidikan adalah untuk memerdekakan manusia; maka pribadi yang merdeka bukanlah yang laissez-faire, tetapi yang mampu mempertanggungjawabkan hasil kemerdekaannya. Sebuah situasi bahwa peserta didik memiliki kemampuan mengritik—juga dikritik—serta mempunyai sensibilitas dan kreativitas, yang menjadi kompetensi social dalam menyikapi nilai-nilai dasar kebersamaan.

    (2) Sistem pendidikan yang berorientasi pada dunia praksis (praxisbezogen). Ini berkaitan dengan ilmu pengetahuan pencerdas manusia, meski bukan berarti melulu bicara tentang “materilisasi” pendidikan yang mengedepankan konsep “siap pakai”. Saya melihat, praksis pendidikan harus diawali dengan suasana belajar-mengajar yang menggunakan metode dialogis untuk membuka pintu bagi proses pencarian kebenaran yang lebih tinggi.

    Bagi saya, itulah tantangan dunia pendidikan ke depan, di mana kita harus mampu memadukan antara ilmu pengetahuan pencerdas manusia dengan ilmu humaniora yang menyentuh manusia secara menyeluruh. Ketika sekolah melahirkan manusia yang mampu menyadari dirinya sebagai makhluk sosial yang hidup dalam dimensi tanggung jawab pribadi dan sosial. Pada tataran ini, pendidikan memiliki tujuan menghasilkan manusia-manusia yang berkepribadian utuh dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh pelbagai desas-desus yang meresahkan ketenangan dalam hidup sosial.

    Sebuah pemahaman bahwa manusia adalah makhluk yang tidak mudah diadu domba, tidak mudah dihasut, serta tidak mudah ditipu oleh pelbagai skenario sosial-politik yang terjadi—baik dalam skala regional maupun nasional. Toh, seperti yang pernah disinggung Arsid, ini sama artinya kita mendambakan manusia yang memiliki prinsip hidup, agar dapat membedakan apa yang bisa, boleh, dan seharusnya dilakukan. Ketika manusia (selalu) ditantang untuk berani menghadapi dan menerima perbedaan personal dan sosial: bahwa tiap manusia adalah unik.

    Buat saya, apa artinya kecerdasan bila kita bersikap seperti Hitler—yang lebih mempersoalkan “identitas ethnis”?. Dalam Mein Kampf, ada kisah tentang Hitler muda. Pada suatu malam di pusat kota Wina, ia berjalan dan bertemu dengan sesosok bayangan hitam dengan rambut hitam dikepang. Hitler bertanya pada diri sendiri: “Yahudikah ini?. Setelah ia amati lebih jauh, ia kembali bertanya dalam hati: “Orang Jermankah ini?”. Hitler tak pernah berpikir apakah si Bayangan itu seorang dokter, tentara, atau seniman. Yang penting baginya hanya “identitas ethnis”.

    Maka segera kita tahu: ia sesungguhnya tak memiliki kesadaran akan diri sendiri yang menyatu dengan kesadaran akan orang lain. Hitler menganggap identitas adalah sesuatu yang dibawa dari lahir, karena antagonisme yang diyakininya adalah sesuatu yang permanen. Ia lupa, identitas sebenarnya tak pernah datang sendiri. Ia hadir karena dirumuskan oleh nama dan bahasa: bangunan simbol yang disusun masyarakat—yang kadang dengan kekerasan. Bahkan ketika ada orang yang mengatakan: “Aku telah menemukan jati diriku”, sesungguhnya ia tak sadar bahwa “diri” yang “sejati” itu mustahil ia peroleh.

    Di sinilah, kita terus paham mengapa kita memilih Arsid untuk menjadi pemimpin di Tangerang Selatan. Ia melihat Tangerang Selatan adalah sebuah sejarah masa depan yang berharga bukan untuk diri sendiri—dan dengan demikian memberi makna bagi hidup kita. Kota ini, baginya, adalah sebuah sejarah harapan dan pengorbanan—dari orang yang berbeda-beda, bagi orang yang berlain-lainan--yang tak merasa perlu memberi batas mutlak tentang ”luar” dan ”asing”. Ia selalu melihat bahwa masyarakat manusia juga mengandung benih-benih perkawanan. Tak cuma antagonisme. Itulah kecerdasan yang sesungguhnya dari seorang pemimpin. (*)

    ARU WIJAYANTO
    Bogor, 24 Februari 2011

    BMW 750 li Pictures


    Among folks fortunate enough to live outside the Snowbelt, all-wheel drive is usually brought up only in conjunction with pickup trucks and Jeep Wranglers. For those of us who have to deal with snow and freezing conditions for months every year, though, an all-wheel-drive car can be the difference between getting to work and getting stuck at the end of your driveway. Indeed, here in Michigan, just about every luxury ride on the road wears an “x” or “4MATIC” or “Quattro” badge on its rump, signifying four-wheel power, with the BMW 7-series being one of the only cars in its competitive set not to offer all-wheel drive. Until now.

    Fitting all-wheel drive to a big rear-drive car, however, can run the risk of upsetting driving dynamics. Take the current BMW 535i xDrive. Like all xDrive systems, its variable torque split defaults to 40 percent front and 60 percent rear, with the ability to shuffle up to 100 percent of the available power to either axle should slippage occur. Yet, it understeers like a baseball player barreling headfirst into home plate because it's primarily focused on achieving maximum traction, rather than improving vehicle agility. Now imagine if the 7-series, which in short-wheelbase form has over seven more inches between the axles and at least 600 pounds on the 535i xDrive, were fitted with the same system. Dynamic disaster. So the engineers at BMW took that previous version of xDrive—currently used in the 3-series as well as the 5-series—and reconfigured it in such a way that the all-wheel-drive 7 handles just as well as, if not better than, its rear-drive sibling.

    Big and Agile

    Throw even the extended-wheelbase 750Li xDrive into a corner, and you’d think you were driving something the size of a 335i, with nicely weighted steering that gets a bit heavier as you go through a corner and the front wheels pull you through. Gone is the fun-killing understeer that was exhibited in the 535i xDrive, replaced by more neutral behavior.

    Among the systems that help the all-wheel-drive 7 dance better than previous xDrive sedans is “performance control,” a torque-vectoring system already featured on the two-wheel-drive 7-series that applies light braking to the inside rear wheel while adding power to the outside rear wheel, correcting for understeer without the driver ever knowing. Additionally, the 7-series is fitted with active front and rear anti-roll bars that adjust to keep the pitch of the big sedan going in its intended direction. Remember the 535i xDrive’s sole focus on traction at the expense of dynamics, and the resulting push? Perhaps the most important characteristic of the new 7-series version of xDrive is that it will variably adjust from the normal 40/60 torque split to, say, 20/80 or 30/70 or whatever when cornering—the car knows when you're trying to push it hard, unlike the 5-series—further accentuating the feel of rear-wheel-drive agility while maintaining the benefits of four driven wheels. Additionally, the system can switch to a 0/100 split when parking (to avoid binding), while also maintaining the ability to send up to 100 percent of available power fore or aft should one set of wheels completely lose traction. The front-to-rear power ratios are not fixed, though, which allows the car’s computer to adjust back to the normal 40/60 torque split as it deems necessary. The result is, as we said, one seriously fine-handling luxo-barge, although it must be noted that only eight-cylinder 7-series customers will be able to opt for xDrive. It will not be offered on the forthcoming 12-cylinder 760i and 760Li.

    The xDrive system adds 187 pounds over a standard 750i, with the car’s overall heft redistributed in such a way that only one additional percent of the car’s weight sits over the front axle, which assists the 7 in its handling prowess. The xDrive 750 will command a $2300 premium when it goes on sale this October—which is just in time to help us Snowbelters escape our snowy driveways.




    Audi S5 Wallpapers


    On a recent trip to Canada I had the opportunity to drive a 2010 Audi S5 Cabriolet for a few days. Prior to hopping into the car in Toronto, I had gotten myself all pumped up about the fact that I’d soon be luxuriating in the power and beautiful noises courtesy of Audi’s 354-bhp 4.2-liter V-8, just like the one found in the S5 coupe we had at the R&T offices for our Road Test in the November 2007 issue. Imagine my surprise when I sat in the S5 cabrio’s superbly supportive driver’s seat, popped the canvas top, fired up the engine…and didn’t hear a rumbly V-8 exhaust note, but rather a V-6. Somewhere along the line this intrepid journalist missed the memo from Audi that the S5 cabrio would use the same supercharged 3.0 TFSI V-6 as our long-term S4 sedan, while the S5 coupe continues (oddly) to be powered by a normally aspirated V-8 (also of interest, the S5 coupe continues with the choice of either a 6-speed manual or 6-speed Tiptronic automatic, while the S5 cabrio comes only with a 7-speed dual-clutch S tronic gearbox).

    No matter, the 3.0 TFSI is one of the best supercharged engines in the world, delivering 333 ultra-smooth horsepower and 325 lb.-ft. of torque, which meant there was always plenty of passing power on hand while traversing Canada’s woodsy two-lane roads.

    Personally I prefer the 6-speed manual in our S4 sedan, as that setup allows for you to become much more “one with the car” than the S tronic, which can be a little bit jerky in manual mode in stop-and-go traffic. I also don’t like that the S tronic automatically upshifts for you at redline, but it’s a decent gearbox regardless, with small paddle shifters on the steering wheel and great exhaust reverberations with each upshift.

    The handling of the S5 cabrio, aided by standard Quattro all-wheel drive, is excellent. Aim the S5 through a corner and it goes exactly where you point it, with minimal body roll and lots of grip, while returning a more than reasonable ride for those times when you’re not pushing the pace. As to be expected, there is a bit of cowl shake.

    The interior is first rate, capable of transporting four adults in comfort, although the rear-seat passengers suffer the usual top-down toussled hair syndrome, which afflicts pretty much all convertibles other than the 2011 Mercedes-Benz E-Class. I found the S5 cabrio’s single button to raise or lower all four windows quite handy. Trunk space is semi-reasonable.

    In the end, while I had a great time driving the S5 cabrio and very much enjoyed the 3.0 TFSI V-6, I must admit I still prefer the S5 coupe’s thundering V-8. But probably not that car’s thirstier nature—14/22 city/highway mpg for the manual and 16/24 for the automatic, versus the S5 cabrio’s V-6/S tronic combo which returns 17/26 mpg.